Pemeriksaan Kesadaran Batin

Igantius Loyola menawarkan suatu keterampilan untuk membantu kita mencermati gerak roh yang terjadi di dalam diri kita setiap hari. Dengan mencermati gerak roh yang terjadi di dalam diri kita setiap hari. Dengan demikian, kitan terbantu untuk selalu menemukan Allah dan kehendakNya setiap hari dalam segala hal. Keterampilan itu adalah pemeriksaan kesadaran (examen conscientiae). Pemeriksaan kesadaran sendiri merupakan sebuah doa. Melalui pemeriksaan kesadaran ini, kita diajak untuk memilah-milah gerakan roh yang ada dalam hidup kita. Diharapkan bahwa gerak roh baik, Roh Allah sendirilah yang kita pilih dan kita ikuti. Mengingat pentingnya pemeriksaan kesadaran bagi hidup kita, Ignatius menganjurkan supaya kita melakukannya dua kali dalam sehari. Sekali pada siang hari (tengah hari) dan sekali pada malam hari (sebelum tidur). Adapun lamanya kurang lebih 15 menit.

LIMA LANGKAH MEMPRAKTIKKAN EXAMEN CONSCIENTIAE

  1. Hening di hadirat Tuhan dan bersyukur atas seluruh hari ini. “Aku menyadari bahwa Tuhan memandangku penuh kasih”.
  2. Memohon rahmat untuk dapat melihat gerakan-gerakan yang dominan muncul dalam hidupku hari ini.
  3. Melihat pengalamanku seluruh hari ini untuk menemukan Allah dalam segala. Kuingat pengalaman yang mengesankan, membahagiakan, memberikan semangat, menghibur. Juga pengalaman yang menyusahkan, menyedihkan, menggelisahkan, dan membuatku kering. Meneliti gerakan-gerakan, dorongan yang muncul dalam pengalaman tersebut. “Bagaimana gerakan roh baik dan roh jahat atau diriku sendiri dalam pengalaman ini?” “Gerakan itu membawaku ke mana?” “Lebih mendekatkan kepada Allah dan tujuan aku diciptakan atau menjahuiNya? Mengapa? Bagaimana tanggapanku terhadap gerakan itu? Apakah aku puas?” “Bagaimana aku sampai mengikuti gerakan-gerakan itu?” Bagaimana perasaanku?”
  4. Mensyukuri hal-hal yang baik dan memohon untuk lebih baik lagi. Meresapkan bagaimana roh baik bekerja pada diriku hari ini, sehingga besok pagi aku lebih peka. Mohon ampun atas hal-hal yang tidak baik, melihat sebab-sebabnya dan mencoba besok untuk tidak berbuat hal itu lagi. Melihat kembali bagaimana roh jahat bekerja dan mempengaruhi, melihat tipu dayanya, untuk lebih waspada besok pagi. Setelah itu membuat niat untuk waktu selanjutnya.
  5. Berterima kasih kepada Allah atas kesadaran hari ini dan memohon berkat untuk niatku selanjutnya.

 

PENULISAN EXAMEN CONSCIENTIAE

  1. Examen adalah mencari makna/pesan Tuhan dalam sebuah peristiwa untukku.
  2. Tulislah examen dalam bentuk percakapan dengan Tuhan; apapun sebutanmu terhadap Tuhan.
  3. Isi tulisan kurang lebih berisi ungkapan perasaanmu atas peristiwa atau pergulatan dominan yang dialami hari ini. Ungkapan sikap yang kamu ambil atas peristiwa atau pergulatan itu. Makna apa yang kamu temukan dalam peristiwa atau pergulatan itu.

BEBERAPA CONTOH PENULISAN EXAMEN CONSCIENTIAS

 

  1. Ya Bapa, pada hari ini saya merasa sangat senang. Terima kasih bahwa hari ini Engkau menyapaku saat ulangan. Engkau memenangkanku dengan berbuat jujur dalam mengerjakan ulangan tadi. Terima kasih, aku tidak jatuh dalam godaan untuk menyontek. Aku berhasil bisa berbuat jujur. Sekalipun aku khawatir akan hasilnya, saya percayakan kepadaMu. Aku yakin Engkau senantiasa akan memberikan hasil yang terbaik bagiku dan sesamaku. Terima kasih Tuhan. Amin.

  1. Dear my best FRIEND, hari ini aku merasa kesal dengan temanku yang sok nyolot. Aku merasa muak dan ingin menjauh darinya. Tetapi entah mengapa, dia selalu ingin dekat denganku dan mengajakku main. Memang sih dia tidak punya teman karena sifatnya itu. Apakah Engkau menginginkanku menjadi temannya? Untuk mau menerima dia apa adanya? Jika ya, ajarilah aku untuk lebih bisa memahami dan menerimanya apa adanya. Terima kasih my FRIEND.

  1. Tuhan, hingga hari ini aku merasa kesal dengan Pak Joni guru bahasaku. Aku merasa dia sok jago dan sok pintar sehingga seenaknya sendiri bicara. Aku merasa direndahkan. Aku kesal sekali. Sekarang setiap melihat dia, aku merasa kesal terus. Aku sendiri yang menderita. Tuhan, berikanlah aku jalan untuk menyelesaikan ini. Aku tidak ingin dihantui oleh rasa kesalku. Amin.

  1. Jika kuingat lagi hari ini, pagi tadi aku merasa malas sekali untuk berangkat sekolah. Mau sekolah nggak ya? Rasanya masih ngantuk dan loyo. Inginnya tidur saja. Lebih baik mbolos dan membuat surat izin palsu. Syukurlah bahwa lewat orang tuaku, Engkau tiba-tiba membangunkanku. Dalam kemalasanku, aku terpaksa bangun dan ke sekolah. Dan ternyata tidak rugi aku ke sekolah hari ini. Aku mendapatkan pengetahuan yang telah kutunggu-tunggu dari pelajaran komputerku. SAHABATKU, terima kasih.

  1. Sehari ini, di kelas aku merasa tidak nyaman. Aku duduk dengan si Joko, anak yang super nyebelin. Banyak tanya hal-hal yang sepele, usil, dan ribut sendiri. Aku cenderung diam dan tidak menanggapi. “Sontoloyo. Nyebelin aja sih anak ini.” Aku sangat ingin pindah tempat duduk. Lain kali aku akan menghindarinya saja. Tuhan apakah sikapku ini tepat? Menghindari dan tidak menerima dirinya apa adanya?

  1. Jam keempat tadi aku merasa jengkel sekali. Ketika asyik-asyiknya mengikuti pelajaran Fisika, ada saja teman-teman yang nyeletuk-nyeletuk sehingga membuat suasana ribut. Aku merasa terganggu dengan itu. Bagaimana sih? Kok ada saja anak yang tidak peduli dengan yang lainnya? Kok egois sekali. Tidak memahami bahwa ada orang lain yang sedang membutuhkan keseriusan dalam belajar. Tuhan, ajarilah aku untuk lebih peka dan peduli pada lingkungan sekitarku sehingga apa yang kubuat tidak merugikan orang lain. Terima kasih Tuhan.

  1. Aku merasa sangat sebel pada jam kelima. Pelajarannya nggak menarik abis. Sudah gurunya narsis, membuat ngantuk, dan sering gabut lagi. Lebih baik aku keluar kelas dengan alasan ke toilet. Ya agak lama-lama dikit di luar. Eh, ternyata disusul dengan teman-teman yang lain hingga kelas mulai kosong. Aku merasa mulai kasihan. Jika demikian terus, siapa yang mau mendengarkannya? Bagaimana jika hal itu terjadi padaku? Mana yang lebih baik Tuhan? Setiap kali lari seperti itu atau memberanikan diri untuk memberikan masukan kepadanya ya? Tuhan, beranikanlah aku untuk memberikan masukan. Terima kasih.

  1. Hari ini aku sangat menyesal mengapa semalam aku tidak belajar. Ternyata hari ini ada ulangan dan aku tidak bisa mengerjakannya. Padahal semalam, ada dorongan untuk belajar karena aku tahu akan ada ulangan mendadak. Akan tetapi, aku merasa malas membuka buku. Aku hanya menghibur diriku dengan “ah tidak hari esok”. Aku hanya menghabiskan waktu dengan membuka intagram sampai larut malam. Ah, seandainya aku menuruti dorongan hatiku semalam, aku tidak akan menyesal hari ini.

(Student Handbook SMA Kolese De Britto 2019/2020, hal.114 s.d. 115)