SMA Kolese De Britto dalam Bingkai Sejarah

Sejarah Serikat Yesus

Serikat Yesus sebagai nama Serikat disahkan oleh Bapa Suci dalam bulla Regimini Militantis Ecclesiae pada 27 September 1540. Latar belakang pengambilan nama Serikat Yesus terkait erat dengan sejarah pembetukan kelompok dan terutama kerohanian St. Ignasius dari Loyola. Di dalam nama ini termuat idealisme kerohanian dan visi kerasulan yang setiap kali bisa diingat dan dicecap-cecap kembali untuk merawat api kerohanian dan semangat kerasulan.

Ketika terbentuk sebagai kelompok, Ignatius dan sahabat-sahabatnya semakin dikenal orang. Orang mulai menanyakan identitas mereka. Sejumlah orang menyebutnya “Iniguitas”. Inilah yang mendorong Ignatius dan teman-teman untuk memikirkan sebuah nama sebagai jawaban atas pertanyaan orang, lebih-lebih sebelum mereka disebar oleh perutusan dari Bapa Suci. Diperoleh kesan bahwa hal ini tidak terlalu penting, lebih praktis dan didesak oleh kebutuhan untuk menjawab. Tidak enak rasanya bahwa orang menduga dan menebak-nebak siapa mereka ini. Di Ferrara, misalnya, disebut-sebut sebagai kelompok teolog dari Paris yang sedang menunggu kesempatan berlayar ke Yerusalem. Singkatnya, Ignatius dan sahabat-sahabatnya merasa perlu menyepakati cara yang lebih cocok untuk menerangkan identitas mereka. Langkah yang diambil Ignatius adalah, seperti biasanya, mengajak para sahabat ini untuk mengkaji, meneliti diri, dan berdoa.

Polanco memaparkan bagaimana akhirnya mereka menyetujui nama Serikat. Penjelasan Polanco senada dengan keterangan dari Diego Lainez dan Ribadeneira. Nama kelompok Ignatius dan sahabat-sahabatnya adalah Serikat Yesus. Nama Serikat Yesus diambil sebelum mereka tiba di Roma. Dari renungan dan doa, mereka menyadari bahwa hanya Yesus Kristus Pemimpin mereka, tidak ada yang lain, dan bagi Yesus Kristuslah mereka berhasrat melayani. Bila orang bertanya tentang makna nama itu, mereka akan menunjuk pada tujuan kelompok, yaitu “berjuang dibawah panji salib”. Mereka dengan sadar membentuk sebuah “skuadron” dengan tatanan ketentaraan untuk mempertahankan iman. Mereka juga akan menunjuk makna lain, yaitu kelompok para “sahabat” Yesus yang berhasrat mengikuti, menemani, dan meneladan Yesus dalam proyek-Nya menaklukkan dunia agar dunia dan seluruh umat manusia dituntun kembali kepada Allah Bapa.

Untuk mengungkapkan makna rohani nama Serikat Yesus, Polanca, Nadal, dan Manare memang menggunakan gaya bahasaa metafor militer. Sejumlah penafsir menggarisbawahi ciri militer dari Campagnia untuk menunjukkan Serikat sebagai kelompok tentara yang berperang dibawah Panglima Yesus; dan ditemukan dalam Latihan Rohani istilah dan kata-kata seperti “Panggilan Raja”, “menaklukkan” (coquisar), “Dua Panji”, lebih-lebih dalam meditasi ini diungkapkan pertentangan antara dua kubu tentara dan dua panglima dengan ajaran dan strategi mereka masing-masing.

Dengan nama Serikat (Compania), Serikat dituduh telah merampas para sahabat Yesus, yaitu kelompok-kelompok saleh yang waktu itu telah banyak tersebar di Itali. Kelompok-kelompok ini secara khusus membaktikan diri dalam amal kasih, doa bersama, dan berbagai tindak karitatif. Sebut saja, misalnya, Compania del Divino Amore (Venezia), atau di kota Roma sendiri bermunculan Compania della Grazia, Compania del Santo Salvatore, Compania della Nunziata alla Minerva, Compania del Santissimo Crocefisso, babhkan di Parma telah ada Compania del Nome di Gesu (Serikat Nama Yesus).

 Sewaktu menjelaskan Examen Generale di depan lebih dari dua ratus Jesuit di Roma pada 1559, Jenderal Diego Lainez menguraikan alasan sebutan minima (hina dina) bagi Serikat. Dikemukakan olehnya penampakan-penampakan yang diterima oleh Ignatius, dan La Storta ditunjuk secara khusus. Ignatius melihat Yesus memanggul salib dan Bapa yang kekal bersabda kepada Yesus “Aku inginkan, Engkau menerima orang ini sebagai abdi-Mu.” Yesus menerima Ignatius, “Aku mau engkau melayani Kami.” Itulah sebabnya mengapa Ignatius memiliki hormat dan bakti kepada Nama Yesus dan semakin mantap menamai kelompoknya “Serikat Yesus”. Sebelum para sahabat tiba di Roma, nama itu sudah mereka pilih. Oleh karena itu, penampakan La Storta adalah sebuah peneguhan atas pilihan nama Serikat Yesus.

La Strota adalah peneguhan dan penegasan dari Allah Bapa yang menjadikan Ignatius abdi dan sahabat Yesus yang memikul salib-Nya. Ignatius, teman-teman pertama, dan semua Jesuit ditempatkan bersama Putra yang sedang memikul salib-Nya di dalam Gereja sekarang. Penampakan La Strota terjadi terjadi ketika Ignatius sudah hidup bersama teman-temannya, yang tak lain mengungkapkan kesatuan tubuh rasuli. Oleh karena itu, meskipun La Storta adalah penampakan pribadi kepada Ignatius, penampakan ini bisa bermakna secara komuniter dengan visi rohani dan rasulinya. Kita menemukan rahmat mistik dalam hidup Ignatius, akar dan dasar karisma Jesuit dengan rahmat-rahmatnya, yaitu: 1) pengabdian; 2) pengabdian kepada Kristus; 3) pengabdian kepada Kristus yang sedang memikul salib; dan 4) semua itu demi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa.

Tepatlah bila kita memperhatikan sejarah dan awal mula pemilihan nama Serikat hingga peneguhan dalam peristiwa La Storta: Ignatius diterima dan digabungkan dengan Yesus yang memanggul salib.

  1. Nama “Serikat Yesus” pertama kali digunakan di Vincenza; saat itu belum tumbuh kesadaran bahwa mereka akan membentuk Serikat. Nama “Serikat Yesus” diambil semata-mata karena memikirkan tanggapan terhadap orang yang memandang mereka sebagai sekelompok kecil imam pengkotbah yang bersama-sama mengadakan perjalanan menuju Yerusalem. Mereka akan mengatakan: kami adalah Serikat Yesus. Inilah nama yang bisa menerangkan identitas mereka. Kendati merupakan hasil dari diskresi bersama, nama “Serikat Yesus” diusulkan pertama-tama oleh Igantius, sebab hati Ignatius dipenuhi hanya oleh Nama Yesus; bahkansurat-surat Ignatius selalu diawali dan diakhiri dengan tanda HIS. Usulan Ignatius dipertimbangkan oleh semua.
  2. Pemilihan nama ini didorong oleh kesadaran bahwa tiada pemimpin selain Yesus Kristus, satu-satunya pemimpin. Kepada Yesus Kristus itulah Ignatius dan kelompoknya ingin mengabdikan diri mereka secara istimewa kepada Yesus Kristus. Dengan nama itu hendak mereka tunjukkan bahwa mereka adalah murid-murid, sahabat-sahabat, dan abdi-abdi Yesus, Sang Pemimpin itu.
  3. Ignatius menerima beberapa kali peneguhan sama “Serikat Yesus”, paling utama di La Strota, sedemikian rupa sampai pada keyakinan bahwa bila ia berpikir dan berkeinginan untuk mengubahnya, hal itu melawan kehendak Allah dan melukai-Nya.
  4. Dalam Deliberation Primarum Patrum 1539 semua menyetujui dan mengesahkan nama Serikat. Diego Lainez melengkapi informasi bahwa Ignatius mengungkapkan baiknya penetapan nama Serikat Yesus. Mereka pun setuju tanpa ada kesulitan.
  5. Kelak kemudian ada usulan untuk mengubah nama “Serikat Yesus” karena serangan musuh-musuh Serikat: nama menggunakan nama Yesus berarti Serikat menyerobot nama yang menjadi pelindung semua orang Kristiani. Serikat menghadapi serangan dan menyatakan bahwa pemilihan dan penggunaan nama tersebut adalah kehendak Allah. Selama Ignatius hidup, nama ini tidak diubah bahkan hingga sekarang.

Ignatius tiba di Paris pada 2 Februari 1528. Didorong oleh karakter rasuli, yaitu hasrat ingin menyelamatkan jiwa-jiwa, Ignatius memilih Paris sebagai tempat menimba ilmu dan menghimpun teman. Sepuluh tahun berselang, Ignatius dan teman-teman tiba di Roma sebagai tarekat hina dina Serikat Yesus (minima Compania de Jesus). Mereka adalah sepuluh imam, terikat erat oleh rancangan bersama sebagaimana terungkap di dalam cara bertindak mereka. Kelahiran komunitas sahabat-sahabat (comunidad de amigos) ini melalui proses panjang. Satu per satu mereka “ditaklukkan” oleh Ignatius melalui persahabatan, percakapan rohani, dan Latihan Rohani. Mereka hidup dengan vitalitas kerohanian yang telah diperkenalkan dan dibentuk lewat Latihan Rohani dan teruji oleh pelbagai pengalaman serta tantangan. Pada akhirnya, dalam diri mereka tumbuh subur kesiapsediaan untuk disebar ke dalam perutusan rasuli seraya senantiasa mengokohkan diri dalam persahabatan rohani.

 

Sejarah Santo Johannes De Britto

Setelah Serikat Yesus berdiri, banyak orang ingin bergabung dalam Serikat ini. Para bangsawan dan anak bangsawan sangat tertarik untuk dekat bahkan menjadi anggota dari Serikat Yesus. Salah satu ketertarikan itu dikarenakan visi dari Serikat Yesus adalah mendidik anak-anak. Bukan hanya visi itu, tetapi juga inspirasi dari para sahabat-sahabat pertama (Prima Patrum) menarik banyak orang ke dalam Serikat Yesus. Salah satunya adalah Johannes De Britto.

Johannes De Britto hidup masa kejayaan Portugal. Pada masa itu Vasco Da Gama dan Alfonso D’Albuquerque adalah tokoh-tokoh yang mencapai Tanjung Harapan sehingga terbukalah jalan menuju India. Setelah merebut kembali dari kemerdekaan dari tangan Spanyol tahun 1640, bangsal Portugal kembali melakukan ekspedisi pelayarannya ke Timur Jauh, India. Dalam ekspedisi ini, para misionaris juga ikut berperan dalam pewartaan iman di tanah misi, seperti St. Fransiskus Xaverius yang telah sampai ke Malaka, kepulauan Maluku, Jepang, dan bahkan mendekati Tiongkok.

Johannes De Britto lahir di Lisboa, Portugal pada 1 Maret 1647 sebagai anak bungsu seorang bangsawan (kepala kerajaan dari Pangeran Braganza), Don Salvador De Britto Pareira. Sampai dengan tahun 1662, Johannes De Britto dididik di istana kerajaan bersama putra raja, yaitu Don Pedro yang menjadi sahabat karibnya sejak kecil. Saat umur 10 tahun Johannes De Britto sakit keras. Ibunya, Dona Beatrix, memohonkan kesembuhan bagi anaknya pada St. Fransiskus Xaverius dengan janji apabila Johannes De Britto sembuh, akan mengenakan jubah Yesuit selama satu tahun sebagai ungkapan terima kasih. Mujizat terjadi, Johannes De Britto sembuh. Sejak saat itu, ke mana-mana Johannes De Britto mengenakan jubah Yesuit sehingga ia sering dipanggil sebagai rasul kecil apostolinho.

Johannes De Britto pun akhirnya tertarik untuk hidup sebagai misionaris Yesuit, seperti Fransiskus Xaverius. Ia masuk novisiat di Lisboa pada 17 Desember 1661. Pada akhir masa novisiatnya yang dua tahun itu, Johannes De Britto mengucapkan kaul. Perhatian dan belarasa yang dimiliki Johannes De Britto semakin tampak ketika ia tinggal di novisiat. Don Pedro, sahabatnya, suatu saat pernah menjenguk di novisiat dan menemukan Johannes De Britto sedang mengunjungi tukang kebunnya yang sakit di pondokannya.

Johannes De Britto belajar Filsafat di Evora, tetapi karena tak cocok dengan udaranya, ia dipindah ke Universitas Coimbra untuk belajar Filsafat dan Theologi di sana. Pada tahun 1673, Johannes De Britto ditahbiskan menjadi imam. Ketika di Evora dan Coimbra, saat menyelesaikan Theologi-nya sebelum berangkat ke tanah misi, Johannes De Britto telah dikenal sebagai seorang intelektual yang mempunyai hati. Ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata, berpikir jernih, tertata dengan baik, tekun dan teliti dalam studi dan penelitian. Selain itu, ia juga merupakan pribadi yang menyenangkan.

Johannes De Britto merasa memiliki ikatan batin dengan St. Fransiskus Xaverius, sang misionaris agung. Ketika berusia 15 tahun, Johannes De Britto sudah meminta kepada Pembesar Serikat Yesus, Paul Oliva untuk diperkenankan mengikuti jejak St. Fransiskus Xaverius. Ia menuliskan permintaannya ini pada tahun 1668. Ketika belum ada jawaban, ia menuliskannya lagi setahun kemudian. Pemimpin Serikat Yesus berpendapat, lebih baik ia menyelesaikan belajar Theologi-nya dulu sebelum diutus ke India. Akhirnya, permohonannya dikabulkan oleh Pemimpin Serikat Yesus.

Meneruskan Jejak Roberto De Nobilli

Johannes De Britto begitu tertarik untuk menjadi misionaris di India, selain karena pengalaman mujizat atas kebaikan St. Fransiscus Xaverius juga karena sharing beberapa Jesuit yang telah bekerja sebagai misionaris di India, terutama Pater Da Costa yang telah berkarya selama 35 tahun. Dari sinilah semakin muncul jiwa kemartirannya sebab sejak awal memang pergulatan misionaris di India tidaklah ringan.

Johannes De Britto ditunjuk menjadi misionaris di Madurai oleh Jenderal Serikat Yesus. Pada Mei 1673, ia bertolak dari Portugal dan sampai di Goa pada bulan September. Ia sampai di Madurai setelah melakukan perjalanan darat yang melelahkan dan berbulan-bulan. Belajar dari kegagalan beberapa Jesuit sebelumnya, yang pertama-tama dilakukan oleh Johannes De Britto adalah mempelajari tradisi dan budaya setempat. Dalam hal ini, ia berhutang budi pada Roberto De Nobilli, yang karena ketajaman analisisnya berhasil membuka jalan pewartaan dengan lebih baik. Sistem kasta merupakan tradisi masyarakat Madurai dan India pada umumnya. Dalam sistem itu, masyarakat terbagi dalam empat kelompok. Mereka adalah brahmana (para pendeta), perwira, pedagang, dan sudra (para petani dan tukang). Disamping keempat kasta tersebut, masih ada lagi satu golongan lagi yang paling dihinakan yaitu paria (mereka yang tidak memiliki hak sama sekali, terkutuk, gelandangan). Menurut Roberto De Nobilli, sistem kasta menyebabkan pewartaan iman kurang mengena sebab seringkali misionaris tidak memiliki akses pada banyak kelompok ini. Selain itu, karya hasil misi menjadi lembek karena para misionaris Eropa tak mampu menempatkan diri secara tepat. Cara hidup para misionaris Eropa waktu itu justru membuat batu sandungan. Mereka mempunyai pelayan seorang paria, padahal perilaku seperti itu dianggap mencemarkan dirinya. Mereka juga makan lembu dan minum minuman keras. Tak mengherankan apabila mereka kehilangan kehormatan dan kewibawaan di kalangan orang-orang India. Situasi ini membuat Roberto De Nobilli bersikap lain. Ia mengadakan inkulturasi, menjadi pendeta, makan dan minum seperti tradisi para pendeta pada umumnya. Rupanya dengan cara ini, ia memperoleh kepercayaan di kalangan orang-orang India, sehingga banyak orang datang padanya dan akhirnya dibaptis.

Sebagai misionaris, Johannes De Britto, meneruskan cara-cara Roberto De Nobilli. Ia tidak menjadi pendeta, namun sebagai pandara swami, suatu derajat yang lebih rendah dari pendeta. Dengan cara ini, ia banyak mengumpulkan banyak orang dari berbagai macam kasta. Disamping itu, ia belajar dan mendalami bahasa Tamil dan bahasa yang digunakan di kalangan intelektual pada masa itu, yaitu bahasa Sanskerta. Dengan kedua bahasa itu, Johannes De Britto, menyelami dan menguasai berbagai macam pandangan Filsafat yang mereka miliki, mengkritisinya, dan membawa mereka pada kebenaran Allah.

Johannes De Britto dikenal sebagai pekerja keras. Ia sering mengunjungi umatnya di daerah-daerah melalui jalan darat yang jauh dan melelahkan, memberikan sakramen pengakuan dosa, dan membaptis mereka. Salah satu kesaksian misionaris Madurai berbunyi, “Sejak saya menginjakkan kaki di daerah misi ini pada tahun 1680, Pater De Britto dengan kerjanya yang takkan kenal lelah berhasil mengembangkan wilayah Katolik, meskipun rintangan dan penganiayaan begitu singit. Semua bahaya ditempuhnya asal dia dapat menolong jiwa-jiwa dan memperluas kerajaan Allah. Keinginan dan semangatnya menolong orang-orang dan mempertobatkan mereka yang kafir begitu besar, sehingga dalam pandanganku ia adalah St. Fransiscus Xaverius baru.”

Ketika itu, di daerah Madurai terjadi pertingkaian besar antar-para raja, seperti raja Maisur, Marava, Tanyaur, dan Ginggi. Penindasan dan penganiayaan atas jemaat Kristiani terjadi begitu hebat. Seringkali Johannes De Britto menyelamatkan dan melindungi mereka dari berbagai macam penganiayaan dan penindasan itu dengan masuk ke dalam hutan.

Di Marava pada tahun 1663 telah ada 4000 orang Katolik. Mereka semua ini ada dalam penganiayaan dan pengejaran oleh Panglima Kumara. Johannes De Britto juga tertangkap dan mengalami penganiayaan yang berat ketika sedang melindungi umatnya. Akan tetapi, ketika Panglima Kumara akan menghukum Johannes De Brito, atas kegiatannya menyebarkan iman, secara mengejutkan Raja Marava membebaskannya. Ia hanya diberi peringatan terakhir. Ia boleh tinggal di Marava, tetapi tidak boleh lagi menyebarkan imannya di sana. Kalau melanggar, ia akan dihukum mati.

Setelah dibebaskan, Johannes De Britto sempat kembali ke Portugal untuk melaporkan keadaan di daerah misinya. Tentu ia disambut dengan suka cita besar sebagai seorang pahlawan. Akan tetapi, hal itu justru membuatnya sedih sebab banyak umatnya menderita selagi ia berada di Portugal.  Johannes De Britto segera ingin menyelesaikan urusannya sebab hatinya selalu tertuju pada umat di Madurai, khususnya di Marava. Ia kembali lagi ke Madurai dan secara sembunyi-sembunyi mengunjungi umatnya. Ia mempertobatkan dan membaptis 8000 orang dan mendengarkan pengakuan dosa. Rupanya katekis yang telah dididiknya bekerja dengan sangat baik.

 

Teguh dalam Sikap dan Membela Kebenaran

Salah seorang putra Raja Marava, yaitu Tedayadaven, sangat tertarik dengan Pandara Swami Johannes De Britto. Ia bersedia diajar agama Katolik dan menjadi magang baptis. Akan tetapi, tiba-tiba ia sakit keras dan dengan doa Johannes De Britto ia sembuh. Tedayadaven memang menunjukkan minatnya untuk memeluk iman Kristiani, namun ada satu halangan, ia memiliki banyak istri. Oleh Johannes De Britto, ia ditantang hanya setia kepada satu istri seumur hidup dan melepaskan empat istri lainnya. Tedayadaven memilih istri pertama sebagai istri tunggalnya. Rupanya salah satu istri yang diceraikannya adalah kemenakan Raja Marava. Sang raja marah atas nasib yang menimpa kemenakannya dan berjanji akan menghukum Johannes De Britto. Sejak kejadian tersebut, Johannes De Britto masuk dalam daftar orang yang dicari. Raja Marava memerintahkan untuk membakar semua gereja dan menghukum orang-orang Katolik serta memerintahkan untuk menangkap Johannes De Britto.

Pada 29 Januari, Johannes De Britto dibawa ke Oriur. Gubernur Oriur adalah adik Raja Marava, yang kejam dan bengis, namun ia agak buta dan lumpuh. Ia pernah mendengar mujizat yang dilakukan oleh Johannes De Britto, maka ia meminta supaya Johannes De Britto menyembuhkannya. Akan tetapi, Johannes De Britto tidak bersedia dan mengatakan,”Hanya Tuhan yang dapat menyembuhkan engkau.” Gubernur marah dan menyuruh menghukumnya. Akan tetapi, istri sang gubernur membela Johannes De Britto dengan tidak setuju jika menghukum orang yang tidak berdosa. Akhirnya, pada 4 Februari 1693, Gubernur Oriur memutuskan untuk menghukum mati Pater Johannes De Britto di tangan lima algojo. Kepalanya, tangan, dan kakinya dipenggal serta tubuhnya diletakkan di tiang pancang sebagai makanan burung-burung liar.

“Johannes De Britto telah tiada, namun semangatnya akan tetap dikenang oleh orang-orang India. Bagaimana dengan semangat kita yang menyebut diri siswa dan keluarga besar De Britto?”

 

Sejarah SMA Kolese De Britto

Kisah hidup St. Johannes De Britto di atas menjadi inspirasi bagi berdirinya sekolah yang mendidik orang-orang muda yang mempunyai semangat seperti St. Johannes De Britto yang juga dijiwai oleh semangat St. Igantius Loyola. Di dunia ini ada dua sekolah Jesuit yang berdiri dengan St. Johannes De Britto sebagai Santo Pelindung. Yang pertama adalah SMA St. Johannes De Britto, Tamilnadu, India Selatan. Sekolah itu telah berdiri sejak tahun 1943. Yang kedua adalah SMA Kolese De Britto, Yogyakarta, Indonesia yang berdiri pada tahun 1948.

SMA Kolese De Britto yang lebih dikenal dengan nama “De Britto” atau “JB” (kependekan dari Johannes De Britto) ini mempunyai sejarah yang cukup panjang. Bermula dari suatu kebutuhan mendesak waktu itu. Sesaat setelah pemerintah pendudukan Jepang mencabut peraturan yang melarang pihak swasta mendirikan sekolah, para bruder CCI bersama suster Carolus Borromeus dan Fransiskanes mendirikan sebuah sekolah menengah Katolik, setingkat SMP. Untuk menampung lulusan SMP itulah dirasa mendesak adanya sebuah sekolah menengah atas yang bersendikan asas-asas Katolik. Atas persetujuan bersama Yayasan Kanisius dibawah pimpinan Romo Djojoseputro dengan para romo Jesuit dan para suster Carolus Borromeus didirikanlah SMA Kanisius yang dibuka secara resmi pada 19 Agustus 1948. Murid angkatan pertama adalah campuran (putra-putri) yang berjumlah 65 orang. Waktu itu, tempatnya menumpang di ruang atas SMP Bruderan Kidul Loji. Tidak lama setelah diresmikan, jabatan pemimpin sekolah yang semula/untuk sementara dipegang Romo B. Sumarno, S.J. diserahkan kepada Romo R. Van Thiel, S.J. Karena situasi sosial politik saat itu, sekolah yang baru berlangsung lima bulan itu bersama-sama sekolah-sekolah lain, akhirnya ditutup saat terjadi clash kedua tentara Belanda pada 18 Desember 1948.

Setelah keadaan tenang, persiapan untuk mulai mengadakan kegiatan sekolah segera dilaksanakan. Bagian putri sudah bisa memulai kegiatan sekolah lagi pada Agustus 1949, sedangkan bagian putra baru dapat memulai kegiatan sekolahnya pada Oktober 1949. Hal ini disebabkan banyak pemuda yang baru pulang dari medan perang. Ketika sekolah dibuka kembali, bagian putra dan putri mulai dipisahkan. Bagian putra yang kemudian menempati gedung di Jalan Bintaran Kulon 5 diasuh oleh para romo Jesuit dan memakai nama SMA Santo Johannes De Britto. Bagian putri dibawah asuhan para suster Carolus Borromeus yang menempati gedung di Jalan Sumbing 1 (sekarang Jalan Sabirin) dan memakai nama SMA Stella Duce yang bermakna Bintang Penuntun. Sampai saat itu, SMA Johannes De Brito belum mempunyai lambang. Oleh karena itu, pada tahun 1951 diadakan lomba cipta lambang SMA Johannes De Britto. Yang berhasil menjadi pemenangnya adalah R. Nawawi Hadikusumo, siswa SMA Johannes De Britto tahun 1949-1950.

“Kolese De Britto yang dijiwai oleh semangat Kristiani yang bersumber dari Allah Tritunggal (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) bercita-cita meraih keunggulan dengan dilandasi hati yang bersih untuk mewujudkan hidup damai bersama dengan orang lain.”

Keterangan:

  1. Bingkai berbentuk segi tiga yang telah dimodifikasi melambangkan Allah Tritunggal (Bapa, Putra, dan Roh Kudus).
  2. Api pada obor melambangkan semangat kristiani yang memancarkan sinar yang menerangi hati setiap orang.
  3. Warna kuning pada huruf JB berarti keunggulan.
  4. Warna hijau pada dasar tulisan huruf JB berarti kedamaian.
  5. Warna putih pada dasar gambar obor berarti kesucian.

 Pada 9 Juni 1953, oleh Pembesar Serikat Yesus di Roma, nama SMA Santo Johannes De Britto diubah menjadi SMA Kolese De Britto. Perkembangan senantiasa terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Tidak hanya pergantian pengurus dan staf pemimpin, tetapi juga perkembangan yang menyangkut jumlah murid, ruang kelas, pembenahan administrasi, termasuk pemindahan gedung sekolah. Pilihan lokasi jatuh di daerah Demangan. Peletakkan batu pertama tanda dimulainya pembangunan gedung baru dilakukan oleh Mgr. A. Soegijapranata, S.J. yang waktu itu menjabat sebagai Vikaris Apostolik Semarang. Pada Mei 1958, SMA Kolese De Britto dipindahkan ke Demangan. Sekolah menempati kompleks gedung yang luas dan dilengkapi dengan lapangan olahraga, aula, ruang-ruang laboratorium, dan lain-lain. Lokasi sekolah inilah yang kemudian lebih dikenal dengan alamat Jalan Laksda Adisucipto 161 Yogyakarta.

Beberapa waktu kemudian, muncul peraturan dari pemerintah yang melarang orang berkewarganegaraan asing mengajar di sekolah dasar dan menengah. Pada permulaan tahun ajaran baru, tepatnya 1 Agustus 1960, Romo P.F.C. Teeuwisse, S.J. yang masih warga negara asing digantikan oleh Romo Th. Koendjono, S.J. sebagai direktur baru. Dua tahun kemuadian, tepatnya 1 Agustus 1962, kepengurusan SMA Stella Duce, yang semula masih sama dengan SMA Kolese De Britto, secara resmi diserahkan kepada Yayasan Tarakanita. SMA Kolese De Britto tetap dikelola oleh Yayasan De Britto yang secara exofficio diketuai oleh romo Jesuit sebagai rektor kolese.

Semenjak awal perkembangannya SMA Kolese De Britto sebagai suatu kolese, lembaga pendidikan yang dikelola oleh Jesuit senantiasa mengalami keterbatasan/kekurangan tenaga Jesuit. Salah satu jasa Romo Schoonhoff, S.J. sebagai rektor kolese (mulai tahun 1956) adalah kegigihannya mempertahankan SMA Kolese De Britto ketika hendak ditutup sebagai kolese dan kemudian akan diserahkan kepada awam. Alasan penyerahan kepada awam adalah karena pada waktu itu tidak tersedia cukup tenaga Jesuit untuk diserahi tugas di SMA. Salah satu argumen yang diajukan Romo Schoonhoff, S.J. kepada Pater Jenderal Yesuit di Roma adalah bahwa dari SMA Kolese De Britto ini setiap tahun ada beberapa eks-alumnusnya yang mendaftar di seminar. Selain itu, ada fakta yang tidak boleh diabaikan, yaitu bahwa dari kolese ini sudah banyak dihasilkan imam baik Jesuit, Projo, atau tarekat lainnya. Selain Romo Schoonhoff, S.J., Bapak L. Subiyat juga merupakan tokoh yang sangat berjasa dalam memperjuangkan kelangsungan SMA Kolese De Britto sebagai sebuah kolese.

Ketika Romo Th. Koendjono, S.J. menjadi direktur/kepala sekolah (1962-1964) diangkatlah kedisiplinan menjadi tuntutan kerja dan sikap hidup sehari-hari, tidak hanya untuk siswa, tetapi juga semua pihak yang terlibat dalam pendidikan di kolese. Kerja sama dengan awam sedikit demi sedikit dikembangkan. Kerja sama itu tidak hanya dalam arti berhubungan baik supaya awam mau bekerja lebih tekun, tetapi semakin menempatkan awam sebagai partner yang setara dalam pengelolaan sekolah. Sayangnya Romo Th. Koendjono, S.J. tidak lama bertugas karena mendapat tugas baru dari Pater Jenderal Yesuit. Pada tahun 1964, Romo Th. Koendjono, S.J. sebagai direktur digantikan oleh seorang awam, yaitu Bapak C. Kasiyo Dibyoputranto. Serikat Yesus semakin menyadari pentingnya kerja sama yang sederajat dengan awam. Sejak itu hingga sekarang, jabatan direktur/kepala sekolah selalu dipegang oleh awam. Ciri kolese, adanya Jesuit di dalamnya, tetap dipertahankan dalam jabatan rektor (yang sekaligus menjadi ketua pengurus yayasan) dan jabatan pamong.

Ketika jabatan rektor dipegang oleh Romo J. Oei Tik Djoen, S.J. pada tahun 1973, di SMA Kolese De Britto dicanangkan pendidikan bebas bertanggung jawab. Konsep pendidikan bebas bertanggung jawab ini merupakan jawaban terhadap keadaan masyarakat yang kurang bisa menerima pendapat yang berbeda dari pendapat umum, khususnya sekitar tahun 1960-1970. Masyarakat lebih mementingkan penampilan luar daripada motivasi. Para pendidik di SMA Kolese De Britto merasa bahwa para siswa harus mampu berpendapat sendiri. Keberhasilan pendidikan bebas itu tidak bisa dilepaskan dari peran empat serangkai, yaitu Romo Oei Tik Djoen, S.J., Romo G. Koelman, S.J., Bapak C. Kasiyo Dibyoputranto, dan Bapak L. Subiyat. Empat serangkai itu pada tahun 1971 diperkuat oleh Bapak Chr. Kristanto yang diangkat menjadi wakil kepala sekolah dan Bapak G. Sukadi yang banyak berperan dalam kegiatan siswa.

Pada tahun 1984 kepemimpinan di SMA Kolese De Britto dilaksanakan secara kolegial antara rektor, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan pamong. Romo rektor merupakan pemimpin dan penanggung jawab karya, sebagai instansi banding tertinggi. Kepala sekolah merupakan pemimpin dan penanggung jawab jalannya sekolah. Romo pamong menjadi penanggung jawab pembinaan siswa. Akan tetapi, mulai tahun ajaran 1987-1988 dibuat rumusan-rumusan tugas secara jelas dan dipisahkan secara tegas urusan sekolah dengan urusan (komunitas) pastoran. Mulai tahun 1993, direksi dikembangkan dengan satu jabatan baru, yakni wakil kepala sekolah urusan administrasi dan keuangan. Dengan demikian, mulai saat itu sekolah dibantu dengan oleh tiga wakil kepala sekolah yang mengurus akademik, administrasi dan keuangan, serta kesiswaan/pamong.

Tahun ajaran 2004-2005, SMA Kolese De Britto mulai menerapkan kurikulum 2004 yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan setahun kemudian berubah menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Mulai tahun itu, SMA Kolese De Britto menambah satu kelas X; dari enam kelas menjadi menjadi tujuh kelas. Pada tahun ajaran 2006-2006, dibuka kembali jurusan Bahasa, setelah 10 tahun tidak membuka jurusan tersebut, untuk melengkapi dua jurusan yang sudah ada yaitu IPS dan IPA.

Sebagai salah satu upaya mewujudkan ciri khas SMA Kolese De Britto sebagai Kolese Yesuit, maka pada tahun 2008, Romo Provinsial Serikat Yesus Indonesia menugaskan seorang Jesuit untuk menjadi Kepala Campus Ministry (CM). Keberadaan CM dimaksudkan untuk memfasilitasi para siswa, guru, dan karyawan dalam hal formatio iman, serta memperdalam makna dan tujuan hidup. Berlandaskan nilai dan semangat Kristiani dan Spiritualitas Ignatian, Campus Ministry SMA Kolese De Britto merupakan sarana dan wahana kerasulan untuk melayani seluruh civitas academica De Britto. Reksa pastoral dan kerohanian yang dulu dirangkap oleh Pamong dan penugasan khusus kepada guru, mulai dikelola oleh Tim CM.

Pada awal tahun ajaran 2007-2008, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah c.q. Direktorat Pembinaan SMA melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman menetapkan SMA Kolese De Britto sebagai Rintisan SMA Bertaraf Internasional. Sekolah Bertaraf Internasional adalah satuan pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi standar kompetensi lulusan, isi, proses, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, dana, pengelolaan, dan penilaian, serta diperkaya dengan standar salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan atau negara maju lainnya.

Sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), mulai tahun 2013, SMA Kolese De Britto secara otomatis sudah tidak lagi menjadi sekolah RSBI. Bersamaan dengan perayaan ke-64 tahun (Tumbuk Ageng), SMA Kolese De Britto mengadakan bedah lembaga dengan bantuan Bussiness Model Canvas (BMC) dan menghasilkan inspirasi untuk menyusun Rencana Induk Pengembangan (RIP) sekaligus merancang program pengembangan setelah Master Plan Sekolah berakhir.

Pada tahun ajaran 2013-2014, Pengurus Yayasan De Britto bersama dengan staf Direksi SMA Kolese De Britto menyusun Rencana Strategis (renstra) tahun 2013/2014 s.d. 2017/2018. Seiring dengan pergantian direksi sekolah, wakil kepala sekolah ditambah satu bidang lagi, yaitu wakil kepala sekolah urusan hubungan masyarakat (humas). Sebenarnya wakil kepala sekolah bidang humas telah dirintis enam tahun sebelumnya sebagai bidang khusus dibawah koordinasi kepala sekolah. Maka sejak tahun 2013, staf direksi sekolah terdiri dari kepala sekolah dan empat wakil kepala sekolah. Mulai tahun ini, lebih serius dilakukan penataan kegiatan pendampingan/formasi siswa, membangun budaya kolese, restrukturisasi yayasan dan staf kantor yayasan, penataan keuangan lembaga, sekaligus membangun kesadaran bahwa SMA Kolese De Britto adalah bagian dari jaringan Sekolah Yesuit di dunia. Tradisi examen conscientiae, journaling, morning assembly mulai dihidupi.

Meskipun pada tahun ajaran 2013-2014 SMA ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan sebagai sekolah sasaran pelaksana Kurikulum 2013, pada tahun 2014 SMA Kolese De Britto kembali menggunakan Kurikulum 2006 atas rekomendasi dari Yayasan dan Kolese-kolese Yesuit Indonesia. Baru pada tahun ajaran 2017-2018, ketika semua SMA di DIY diwajibkan melaksanakan Kurikulum 2013, maka SMA Kolese De Britto menggunakan Kurikulum 2013 dengan konsekuensi rombongan belajar menjadi 27 kelas; masing-masing tingkat terdiri dari 9 rombongan belajar; 5 kelas IPA, 3 kelas IPS, dan 1 kelas IBBu.

Berkaitan dengan pelaksanaan Eksamen Karya Yesuit Provindo pada tahun 2016, SMA Kolese De Britto dan Pengurus Yayasan De Britto menanggapinya dengan gembira dan bersungguh-sungguh sehingga hasil eksamen karya juga digunakan untuk merumuskan Rencana Induk Pengembangan (RIP) Kolese De Britto Tahun 2018/2019 s.d. 2027/2028. Penyusunan RIP ini dilakukan mengingat Renstra 2013/2014 s.d. 2017/2018 telah berakhir. Dalam RIP ini, visi, misi, tujuan, profil (termasuk profil siswa, guru/karyawan, dan lembaga), serta nilai-nilai SMA Kolese De Britto diperbaharui. Tahun 2019/2020 adalah tahun kedua pelaksanaan Renstra 5 tahun pertama (2018/2019 s.d. 2022/2033) dari RIP 2018/2019 s.d. 2027/2028.

Sebagai pengingat sekaligus menjadi bagian dari sejarah SMA Kolese De Britto, berikut ini adalah nama-nama Rektor, Kepala Sekolah, dan Pamong SMA Kolese De Britto dari masa ke masa.

Rektor

  1. Van Thiel, S.J.
  2. Schoonhoff, S.J.
  3. Moerabi, S.J. ( … s.d. 1972)
  4. Oei Tik Djoen, S.J. (1972 s.d. 1978)
  5. Van Voorst tot Voorst, S.J. (1979 s.d. 1984)
  6. Van Delf, S.J. (1984 s.d. 1987)
  7. Haryoto, S.J. (1987 s.d. 1990)
  8. Subagyo, S.J. (1990 s.d. 1997)
  9. Susilo, S.J. (1997 s.d. 2004)
  10. Ageng Marwata, S.J. (2005 s.d. 2012)
  11. Gustawan, S.J. (2012 s.d. 2019)
  12. Kuntoro Adi, S.J. (2019 s.d. …)

 

Kepala Sekolah

  1. Van Thiel, S.J. (1948 s.d. 1949)
  2. Wakidi ( 5 Desember 1949 s.d. 1 Maret 1950)
  3. Van Thiel, S.J. (1950 s.d. 1956)
  4. F.C. Teeuwise, S.J. (1956 s.d. 1960)
  5. Koendjono, S.J. (1960 s.d. 1964)
  6. Kasiyo Dibyoputranto (1964 s.d. 1982)
  7. J. Pratolokinardi (1982 s.d. 1995)
  8. Soemarjo, B.Sc. (1995 s.d. 2001)
  9. Th. Sukristiyono (2001 s.d. 2009)
  10. X. Agus Hariyanto, M.Pd. (2009 s.d. 2013)
  11. Prih Adiartanto, M.Ed. (2013 s.d. …)

 

Pamong

  1. J.M. Jeuken S.J.
  2. Koelman, S.J. (… s.d. 1972)
  3. Soegiarto, S.J. ( 1973 s.d. 1974)
  4. Margija Mangunhardjana, S.J. (1975 s.d. 1976)
  5. Sabdo Utomo, S.J. (1977 s.d. 1979)
  6. Suyudanto, S.J. (1980 s.d. 1984)
  7. Handriyanto Wijaya, S.J. (1984 s.d. 1987)
  8. Sabdo Utomo, S.J. dan Titus Prayitno Cakradirja, S.J. (1987 s.d. 1990)
  9. Baskoro Pujinugroho, S.J. (1990 s.d. 1992)
  10. Moerti Yoedho Koesoemo, S.J. (1992 s.d. 2001)

(1 Juli s.d. 31 Agustus 2001 tidak ada Pamong)

  1. Kartono – awam (1 September 2001 s.d. 31 Januari 2002)
  2. Rimmin, S.J. (1 Februari s.d. 31 Desember 2002)
  3. Suyitno, S.J. (2003 s.d. 2007)
  4. Chrisna Hidayat, S.J. (2007 s.d. 2010)
  5. Bagus Taufik Dwiko Nanda Pratisto, S.J. (2010 s.d. 2012)
  6. Nugroho, S.J. (2012 s.d. 2016)
  7. N. Devianto Fajar Trinugroho, S.J. (2016 s.d. …)
(Student Handbook SMA Kolese De Britto 2019/2020, hal.1 s.d. 15)